by

Tengku Zilkifli Usman : Politik dan Nilai

Politik dan Nilai

Oleh : Tengku Zilkifli Usman

Tengku Zilkifli Usman : Politik dan Nilai : Kalau berpolitik hanya ingin jadi caleg, gak perlu jadi anggota partai tertentu.

Kalau berpolitik hanya pengen jadi pejabat, juga gak perlu jadi anggota partai tertentu.

Toh setiap 5tahun, hampir semua partai buka pendaftaran bagi siapa saja yang mau nyaleg, dst.

Kalau berpolitik hanya kepengen punya jabatan, gak perlu capek capek buat partai. Jabatan bisa di raih dengan partai orang lain juga banyak jabatan non partai juga bisa diraih.

Tapi berpolitikknya dengan nilai, dengan integritas, dengan etika. Jangan asal asalan berpolitik, karena politisi asal asalan sudah banyak. Tapi tidak merubah keadaan.

Politisi asal itu sudah bejubel, gak kehitung lagi jumlahnya. tujuan nya asal rekening gendut, asal posisi aman, daripada gak ada kerjaan, daripada nganggur maka nyaleg aja.

Daripada non job dan gak tau mau ngapain kalau gak nyaleg maka nyaleg, gak tau mau ngapain kalau gak terpilih lagi, maka lanjut terus sampai 4 periode. Politisi dengan prinsip begini gak membawa faedah buat negara bahkan merusak.

Politik adalah domain pengabdian, dan itu mustahil dilakukan oleh orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri.

Politik adalah domain kepemimpinan, maka mustahil dilakukan oleh orang orang yang gak paham substansi leadership dalam skala luas.

Tanpa nilai, etika, dan integritas. Maka akan melahirkan para aktivis yang mencari uang receh dan proyek cetak spanduk dan recehan lainnya di dunia politik.

Tanpa nilai dan tanpa prinsip yang benar dalam berpolitik, maka hanya akan melahirkan politisi politisi karbitan dan kutu loncat.

Berpolitik sejatinya tugas besar, kalau misi utamanya adalah mengubah keadaan masyarakat dan mengubah haluan negara.

Dia bukan tugas ringan dan kecil yang mampu di emban oleh siapapun. Maka dalam sejarah perjalanan bangsa. Hanya sedikit politisi yang mampu menorehkan sejarah, selebihnya hanya sekedar manggung lalu turun tak berbekas.

Seorang calon politisi besar berangkat dari prinsip pengabdian dan prinsip menyadari akan perlunya bekal yang besar untuk kesana, lalu dia mempersiapkannya dengan baik.

Negarawan dan politisi besar tidak lahir secara instan apalagi dengan prinsip prinsip diatas. Daripada gak ada kerjaan. Daripada nganggur dst.

Berpolitik butuh banyak bekal, bekal pengetahuan terutama. bekal skill kepemimpinan, bekal finansial yang cukup juga berbagai bekal pemahaman peta yang memadai.

Negara tidak akan berubah jika para politisi yanh muncul setiap pemilu adalah mereka yang malas mempersiapkan bekal.

Percuma menjabat 5 periode sebagai anggota DPR dst. Tidak akan mampu membawa faedah besar kecuali hanya sekedar melaksanakan ritual harian, mingguan, bulanan dan tahunan secara hampa tanpa makna.

Politisi yang tidak mempersiapkan bekal dengan baik hanya akan mengisi ruang kosong sementara lalu hilang lagi tanpa bekas sama sekali. Sudah cukup banyak bukti didepan mata kita.

Kesadaran mempersiapkan bekal harus berasal dari kesadaran pengabdian, bukan karena intruksi partai, gak boleh juga berasal dari ambisi meraih jabatan semata.

Kesadaran mempersiapkan bekal harus berasal dari kesadaran bahwa dunia politik adalah dimana hajat hidup orang banyak disana diurus. Maka bekal yang banyak dibutuhkan karena medan pengabdian yang luas untuk memperbaiki skala yang luas juga.

Pengetahuan yang cukup memang sangat dibutuhkan terutama pengetahuan bidang politik dan tatanegara. Bidang kepemimpinan, komunikasi, dst dst.

Pengetahuan yang terus harus di tingkatkan terutama kemampuan dan pengetahuan yang berkaitan dengan dunia sosial dan humaniora.

Sebenarnya menjadi politisi bukanlah tugas yang mudah kalau kita menyadari semua tanggungjawab besar tersebut.

Dia bukan profesi yang mudah kalau kita sadar bahwa menjadi politisi adalah menjadi sandaran rakyat. Menjadi negarawan adalah soal PR mengubah arah bangsa ke arah lebih baik.

Menjadi politisi itu hanya mudah kalau kita hanya ingin menghabiskan waktu buat mencari gengsi belaka, mencari tempat mengisi waktu luang, hanya karena gak ada yang bisa dilakukan kalau gagal nyaleg dst.

Menjadi politisi itu hanya mudah bagi mereka yang hanya ingin disebut anggota dewan, dipanggil dengan panggilan pejabat dst. Dia mudah kalau hanya sekedar ingin tampil manggung dan bukan dengan tujuan memenuhi tanggungjawab sejarah.

Kategori Terkait