by

Era Ketidaknormalan dan Spirit Menjadikan Rumah Sebagai Titik Tolak Perubahan

Era Ketidaknormalan dan Spirit Menjadikan Rumah Sebagai Titik Tolak Perubahan

Oleh : Hendro Sugiarto
 
Meyambung tulisan sebelumnya tentang Ramadhan, corona dan membangun spirit kebangkitan, pada tulisan ini saya sedikit ingin berbagi tentang bagaimana menyikapi suasana Ramadhan di saat kondisi pandemi. Dimalam pertama Ramadhan sempat anak saya Aysar bertanya kepada saya, dia bertanya apakah malam ini kita akan tarawih berjamaah di masjid?

Pertanyaan ini menjadi sebuah pertanyaan yang membuat baper sebagain orang untuk  Shalat Tarawih berjamaah di masjid, apalagi tarawih pertama yang memberikan kesan besok puasa telah tiba, dan memberikan sebuah kesan akan semakin mengecilnya masjid ini karena semaraknya Ramadhan.

Namun apalah daya situasi sekarang ini tidak memungkinkan untuk dilakukan tarawih berjamaah di masjid, terutama bagi sebagian masyarakat yang berada di zona merah. Atas kondisi tersebut maka tarawih berjamaah di rumah adalah menjadi pilihan yang utama, termasuk yang kami lakukan sampai sekarang,  tarawih berjamaah #dirumahsaja.
 
Dalam situasi seperti ini menjadi sebuah tantangan khususnya bagi saya untuk memuroja’ah hafalan, setidaknya ketika tarawih berlangsung kita dituntut menghafal sebelas atau dua puluh tiga surat. Sebagai seorang kepala keluarga tentu punya gengsi tersendiri, kita ingin memberikan tauladan kepada anak-anak kita, jangan sampai anak-anak malah menilai kita jagonya  “triple Kulhu”.  

Maka menyelesaikan Juz 30 menjadi pilihan surat yang selalu di baca pada saat tarawih. Karena Selain hafalan saya yang masih lemah, pilihan tersebut sekaligus agar anak kami Aysar bisa mendengarkan dan memuroja’ah hafalannya. Saat itu saya membuat target dalam sepekan Juz 30 dari mulai Surat  An-naba Sampai An-Nas terbaca disaat tawarih.

Dimalam ketiga rencana itu Ambyaar, seperti yang sudah terprediksi sebelumnya, di saat membacakan surat-surat tersebut selalu ada saja yang salah, atau berhenti karena lupa, karena Aysar yang terdekat dengan saya, maka dia yang selalu mengoreksi ketika saya salah ataupun lupa.

Akhirnya setelah selesai tarawih di malam ketiga tersebut kami mengedit sebuah program yang sudah disusun selama satu bulan, salah satu program yang kami edit adalah Imam Tarawih yang bergantian. Dan malam keempat tadi merupakan tugas perdana Aysar memimpin sebagai imam tarawih.

Karena Aysar sudah masuk katagori Mumayiz (Lebih dari usia 7 tahun) Sebagian Mayoritas ulama memperbolehkan seorang Mumayiz memipin shalat sunah, seperti shalat taraweh, shalat gerhana dengan makmum orang yang sudah baligh.

Ini merupakan sebagian pendapat mayoritas ulama (Malikiyah, Syafiiyah, hambali, dan sebagian hanafiyah). Ini kami lakukan agar Anak kami Aysar bisa memuroja’ah hafalannya, lebih dari itu belajar untuk menjadi seorang yang pemberani.

Suasana pandemi ini tidak hanya membuat ketidaknormalan dari sudut pandang ekonomi dan bisnis, akan tetapi membuat suasan Ramadhan sekarang menjadi berbeda. Jika sudut pandang ekonomi dan bisnis, rumah menjadi tumpuan  TITIK PEREKONOMIAN NASIONAL maka dalam suasana Ramadhaan sekarang rumah menjadi  TITIK TOLAK PERUBAHAN.

Rumah harus menjadi pusat optimaliasi ibadah di bulan Ramadhan, Suasana Ramadahan yang biasanya semarak berubah menjadi syahdu dan membuat rindu, tidak lagi terlihat semarak kajian Ramadhan dimasjid-masjid, tadarus qur’an, saur keliling, tebar ta’jil hampir disetiap jalan, jalanan sunyi dari singgahan orang untuk ngabuburit, sampai hilangnya semarak tarawih berjamaah di masjid-masjid pusat kota.
 
Meskipun dalam keadaan ketidaknormalan bukan berarti kekhusuan kita untuk menghidupkan ibadah Ramadhan menjadi berkurang, justru ini menjadi sebuah ibroh bagi kita agar peluang Ramadhan kali ini kita bisa lebih baik dari pada Ramdhan-ramadhan sebelumnya. Banyak hal yang bisa kita lakukan meskipun #diamdirumah saja. Salah satunya adalah bonding bahkan tidak sekedar bonding melainkan meningkatkan attachment dengan anak-anak kita.
 
Kondisi seperti ini mengingatkan akan sebuah rumah perjuangan yang mampu mencetak para pemimpin peradaban terbaik di zamannya, rumah itu sering kita kenal dengan sebutan  Darul Arqom . Rumah  Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam menjadi sebuah saksi bagaimana dari sebuah rumah mampu mencetak generasi terbaik di zamannya dan menjadikan rumah sebagai TITIK TOLAK PERUBAHAN.
 
Jika kita mengkaji rumah Al-Arqom tersebut, setidaknya ada beberpa hal yang menjadi pelajaran bagi kita agar rumah kita ini bisa meneladani semangat rumah Al-Arqom, apalagi disuasana Ramadhan dan pandemi ini.

Pertama, Rumah sebagai Pusat Pembelajaran. Paska pandemi ini rumah, tidak lagi sekedar tempat singgah untuk relaksasi, berckrengkrama dengan keluarga, akan tetapi rumah harus mampu memanage menjadi ruang pembelajaran tidak jauh beda dengan memanage perusahaan atau organisasi. Jika kita melihat rumah Al-Arqom ada beberapa alasan Rasulullah SAW saat itu memilih Darul Arqam sebagai rumah pembelajaran bagi para sahabat-sahabatnya dikarenakan berbagai keuntungan.

Pertama, tempat tersebut sangat dekat dengan Ka’bah. Yang secara tidak langsung menguatkan spirit para sahabat yang masih dalam proses pembinaan. Kedua, faktor keamanan, Arqam saat masuk Islam baru berusia 16 tahun, dan tercatat sebagai orang ketujuh yang masuk kepada Islam ( Assabiquna Awalun) dan saat itu tidak terfikirakan oleh orang-orang musyrik bahwa rumah Al-Arqam akan dijadikan pusat pelajaran dakwah Islam.

Maka selaian rumah merupakan tempat yang paling aman agar kita tidak terkena dampak pandemi ini, kita dituntut merekontruksi ulang peran rumah kita, salahsatunya adalah menjadikan rumah sebagai Pusat pembelajaran bagi anak-anak kita dan lingkungan kita.

Kedua, Rumah sebagai Penjaga aset kita. Aset terpenting dalam rumah bukanlah barang mewah, kendaraan, atau harta-harta kita, melainkan aset yang paling berharga adalah anak-anak, merekalah aset yang paling mahal bagi kita. Sehingga dalam suasana Ramadhan ini susunlah sebuah program agar aset kita yaitu anak-anak kita kelak menjadi orang yang akan memberikan keuntungan bagi kita baik didunia terlebih di Akhirat kelak. 

Bahkan jika perlu tentukan dari sekarang kira-kira kelak kedepan anak kita akan berkontribusi terhadap bangsa dan agama menjadi sosok seperti apa? Pelajaran terpenting dari perjalanan dakwah di Rumah Al-Arqom yaitu bagia
mana Rasulullah SAW membidik aset paling berharga yaitu mad’u/kader yang mewakili bidang-bidang spesifik. Dari kalangan anak muda Rosul merekrut Ali bin Abi Thalib, dari kalangan pedagang terdapat Abu Bakar, dari negosiator dan kalangan elit ada Utsman bin Affan, dari calon panglima muncul nama Abu Ubaidah bin Jarrah dan Saad bin Abi Waqqash, dari diplomat ada sosok Mushab bin Umair.

Bahkan Rosul membidik dari kalangan “jagoan” sampai berdoa agar dua umar bisa menjadi bagian perjuangan Dakwah Rosul saat itu. Itulah aset sesungguhnya. Maka dari sekarang tentukanlah anak-anak kita akan menjadii sosok seperti apak kelak nanti?

Ketiga, Rumah sebagai ruang optimalisasi peran kita. Memberikan kontribusi kepada bangsa dan Agama tentunya banyak sekali ragamnya. Tidak selalu dengan menjadi seorang da’i atau penyokong dananya. Pada kondisi tertentu, bahkan dukungan yang lebih tepat ialah menyediakan fasilitas atau rumah seperti apa yang dilakukan Al-Arqom. Jika dinilai dengan uang, pengorbanan Al-Arqam mungkin tidak begitu seberapa. Namun, jika melihat dari hasilnya, sumbangan Al-Arqam ini begitu besar. Bahkan menjadi amal terbaiknya yang menginspirasi generasi-generasi setelahnya.

Maka pada kesempatan ini jadikanlah rumah selama masa pandemi dan Ramadhan ini menjadi kawah candradimuka bagi kita dan keluarga kita. Karena seorang pemenang adalah seseorang yang mampu manjadikan krisis sebagai peluang, termasuk peluang untuk mengupgrade kapasitas diri dan keluarganya. Jangan sebaliknya disituasi seperti ini justri kita menyerah dalam keadaan.

Semoga rumah-rumah kita selama sebulan lamanya mampu merekontruksi peran rumah menjadikan rumah sebagai TITIK TOLAK PERUBAHAN.

Kategori Terkait