by

Rancang Bangun Pelaku Bisnis Halal dan Entrepreuneur Muslim Indonesia

Rancang Bangun Pelaku Bisnis Halal dan Entrepreuneur Muslim Indonesia

Rancang Bangun Pelaku Bisnis Halal dan Entrepreuneur Muslim Indonesia Oleh: Mugni Muhit
(Dosen STAI Al-Ma’arif Ciamis)

Bagaimana menjadi pelaku bisnis halal dan entrepreuneur syariah?

Konsep hidup yang paling ideal, dan adaptable dengan kapasitas manusia adalah Al-Qur’an, kitabullah dan sunnah Rasulullah. Maka tidak benar jika kitab suci ini hanya sekedar pajangan, hiasan, atribusi rumah dan atau kantor. Dibaca dan dikumandangkan hanya pada acara seremonial, pernikahan, hajatan, mengundang jamaah, diperlombakan, serta pada kegiatan ritual lainnya.

Amat sangat disayangkan jika al-Qur’an yang mulia hanya sekedar verbalis, substansi dan esensinya nyaris tidak tereksplorasikan dalam sistem hidup inividu, nasional, dan global. Hingga akhirnya mencapai 85% pusat-pusat dan sumber serta berbagai sektor bisnis dan perdagangan dunia, tak terkecuali Indonesia, dikuasai dan dikendalikan kelompok sekuler.

Rancang bangun pelaku bisnis halal dan menghadirkan entrepreuneur syariah yang komitemen terhadap ketentuan al-Qur’an merupakan langkah strategis. Langkah ini mesti diwujudkan dan dikembangkan dengan mengacu kepada pedoman sejati umat Islam.

Al-Qur’an adalah anugerah terbesar yang berisi berbagai pedoman hidup mencakup aspek ilmu pengetahuan alam, sains, teknologi, akhlak, sosial, sejarah, ekonomi, politik, tata negara, pertahanan dan keamanan serta hubungan internasional.

Esensi al-Qur’an yang demikian sempurna memberikan peluang dam celah luar biasa bagi umat Islam untuk menjadikannya sebagai tolak ukur dan parameter kinerja duniawi dan ukhrawi. Kinerja ukhrawi artinya bahwa ibadah dan ketaatan kita kepada Allah Swt harus didasari oleh ilmu pengetahuan yang didapat dari informasi dan petunjuk al-Qur’an. Kinerja duniawi artinya amal soleh yang ditanam di dunia ini mesti dijalankan mengacu juga kepada pedoman dan ketentuan yang dilukisjelaskan di dalam al-Qur’an.

Untuk merancang dan membangun pola-pola dan konsep serta kerangka duniawi apapun, termasuk menghadirkan sosok subjek bisnis halal dan pengusaha muslim sejati pun wajib merujuk kepada Ketentuan ilahi yang tertuang di dalam al-Qur’an.

Khusus bidang kinerja duniawi yang fokus pada bisnis dan perdagangan yang halal, berdasarkan peta pranata ekonomi syariah, terdapat tiga sektor utama yang sejatinya dapat dikembangkan, yakni sektor riel, sektor moneter, dan sektor sosial. Sektor riel mencakup produksi dan distribusi, pariwisata, hotel, makanan, minuman, fashion, farmasi, dan kosmetik. Sektor moneter mencakup bank, asuransi, pasar modal, multifinance, pegadaian, penjaminan, BMT, Sukuk, saham, reksadana, dana pensiun, dan ventura. Sedangkan bidang sosial meliputi waqaf, zakat, infaq, sodaqah, hadiah, hibah.

Berkenaan dengan bagaimana petunjuk Allah agar manusia secara kompetitif melakukan kerja dan amal soleh yang diridhaiNya, terdapat ayat mujmal yang sangat menarik, Allah Swt sendiri yang langsung memanggil orang beriman agar istiqomah dan konsisten pada doktrinNya :

ياأيها الذين امنوا أذخلوا في السلم كافه ولا تتبعوا خطوات الشيطان انه لكم عدو مبين (البقزة:208)
“Wahai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah. Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kalian semua: (QS AL-Baqarah: 208)

Berdasarkan pesan Allah Swt tersebut, diperoleh pemahaman bahwa kita secara komprehensip dalam kinerja duniawi mesti melihat potensi riel. Realitas potensi ekonomi secara global yang potensial untuk dikembagkan oleh pelaku bisnis adalah konsumsi produk halal global, baik makanan, fashion, travel, media, kosmetik, dan farmasi. Potensi ini di tahun 2018 meningkat tajam seiring dengan pertumbuhan populasi muslim. Dan karenanya Indonesia memiliki peluang emas untuk mensupport kebutuhan global tersebut.

Berdasarkan data statistika Nasional, masyarakat negeri ini mencapai 215 juta jiwa penduduk yang beragama Islam. Secara kuantitas, Muslim Indonesia amat sangat potensial dan marketable. Jumlah muslim Indonesia ini adalah 13% dari penduduk di dunia. Potensi tersebut dapat mendorong dan mencerahkan gairah dan tensi positif bisnis diberbagai sektor seperti halal food, halal travel, modest fashion, halal media, halal recreation, halal cosmetics, halal pharmaceuticals.

Secara konsepsional, pengembangannya dapat mentransenden halal industry. Halal industry ini kinerjanya pada halal ekonomy, halal ekonomy menggandeng halal products, healtycare services, hospitality services, lifestyle, property, dan islamic finance. Islamic finace dikembangkan pada sektor bisnis halal product and services. Halal product and services ditransformasi pada bisnis riel bidang food, ingredient dan additives, cosmetics, animal feed, drugs and vaccines, islamic finance, pharmaceuticals, dan logistucs.

Dianalisa dari state of global islamic economy 2018, menunjukan bahwa pangsa pasar muslim terhadap pasar global, dari sisi pengeluaran mencapai 11, 9% pada tahun 2016. Dan diproyeksikan akan melejit dari US$ 2.006 miliar tahun 2016 menjadi US$ 3.081 miliar pada tahun 2022.

Begitu besar ladang emas yang dapat menjadi bekal dan kekuatan hidup di dunia ini. Dan potensinya telah Allah hamparkan di bumi pertiwi ini. Oleh seban itu banyak ayat alquran yang mengajarkan dan mendorong muslim agar berbisnis. Setidaknya terdapat dalam QS albaqarah: 168, 172, almaidah: 4-5, 88, alanfal: 69, almukminun: 51, annahl: 114, dan al a’raf:160.

Mustaq Ahmad dalam bukunya Etika Bisnis dalam Alquran, ia mengutif C.C Torrey dalam The Commercial Theological Term in the Qur’an, menginformasikan bahwa alquran menggunakan setidaknya 20 terminologi bisnis. Dan ungkapan tersebut diulang-ulang sebanyak 370 kali. Bahkan dalam hadits Nabi pun anjuran dan dorongan untuk berniaga sangat banya, ada ribuan hadits yang menguraikan ekonomi dan bisnis.

Dalam maqasyid al-syari’ah di sebutkan lima pilar utama tujuan Islam, manjaga dan melindungi agama ( hifdhu al-ddin), menjaga dan melindungi jiwa (hifdhun nafs), menjaga dan melindungi akal ( hifdhu al-‘aql),, menjaga dan melindungi anak dan keturunan (hifdhun nasl), dan menjaga dan melindungi harta (hifdhu al-maal). Dalam hal menjaga dan melindungi harta, buka hanya sekedar menjaga semata, namun pemahaman pengembangan harta itu amat mendasar. Dan maksud itulah yang mesti ditranformasikan dalam sektor bisnis ekonomi dan keuangan. (lihat QS annisa: 5).

Secara substantip, ayat-ayat tersebut pada prinsipnya menjelaskan tentang perintah untuk mengkonsumsi produk halal dan memproduksi produk yang halal. Maka sempurnalah hidup manusia beriman, manakala kita mampu melakukan petunjuk Allah tersebut, dan akan benar-benar menjadi khairu ummat dan ummatan wasatha yang makmur dan sejahtera.

Namun demikian, sebagai manusia yang tidak sempurna, tentu ada banyak kekurangan, tetapi bukan berarti harus diam pada kekurangan itu, justru bangkitlah dan optimalkan potensi yang walaupun hanya sebagiannya sesuai dengan kapasistas kita. Dalam hal ini para ulama ahli fiqih pun mencoba membuat parameter dalam merefleksikan titah Allah tersebut melalui metode istimbat alahkam, salah satunya mengacu kepada kaidah:
مالايتم الوجب الا به فهو الواجب
“Segala sesuatu yang tidak akan mencapai kesempurnaan jika tanpa sesuatu itu, maka aesuatu itu status keberadaannya adalah wajib”.

Implementasi bisnis dimaksud sudah barang tentu haruslah dijalankan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan, keahlian, keterampilan yang terdidik dan terlatih. Sebab tidak baik jika pelaku bisnis adalah kelompok yang lemah, lemah dari bebagai sudut pandang.
ولا تؤتوا السفهاء اموالكم التي جعل الله لكم قياما واوزقوهم فيها واكسوهم وقولوا لهم قولا معروفا
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian dari hasil harta itu dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik”.

Amiirul Mukminin Sayidina Umar bin Khthab seringkali membacakan dan menmanjatkan doa terbaiknha yaitu:
اللهم اجعل الدنيا في أيدينا ولا تجعل في قلوبنا
“ya Allah ya Robana, jadikanlah dunia ini berada tepat di genggaman kami, dan janganlah Engkau jadikan posisinya hanya di dalam hati kami”.

Demikianlah Umar bin Khathab mengajarkan paradigma bisnis sejak dini. Sebaiknya di kurikulum anak didik kita mulai dasar Sampai perguruan tinggi ada porsi cukup dan ideal tentang materi bisnis atau entrepreuneurship. Hal ini agar sejak awal, generasi ini memiliki pengetahuan dan semangat berwirausaha, spirit berinovasi kreatif. Dengan begitu peluang dunia berada di genggaman akan semakin terbuka.

Spirit lain berkenaan dengan pentingnya rancang bangun pelaku bisnis halal ini adalah. Hadits Nabi Saw yang sangat populer redaksinya, namun belum termanifestasikan dengan baik esensinya:
عليكم با لتجارة فان فيها تسعة عشر الرزق (راوه احمد)
“Hendaklah kamu berbisnis sebab 99% pintu rezeki atau karunia Allah itu ada dalam bisnis (‘HR Ahmad).

Hadits di atas adalah dasar teologis bagi para entrepreuneur Muslim dalam berbisnis syariah. Bisnis yang dilakukan oleh orang beriman sebagai pelaku yang juga memiliki komitmen keislaman yang baik dan benar.

Pelaku atau subjek bisnis merupakan pemegang kepentingan utama (stakeholder) atau orang yang berkepentingan dalam bisnis. Ada beberapa pemegang kepentingan utama yang terlihat dalam bisnis yaitu; Pemilik, karyawan, Kreditor, Pemasok, Pelanggan, dan investor

Komponen yang posisinya sangat urgen dalam bisnis yang beretika adalah norma dan nilai keadilan. Keadilan ini menjadi jantung yang akan mentransformasi spirit bisnis ke seluruh tubuh hingga mampu menghadirkan pelaku dan subjek bisnis halal dan entrepreuneur syariah. Perilaku dan sikap pelaku bisnis tersebut harus beririsan kuat dengan pesan Allah Saw dan Nabi Agung Muhammad Saw sebagai bapak ekonomi Islam.

Mindset ekonomi islam yang ada pada rancang bangun ini adalah dalam rangka menyongsong visi 2025 ekonomi Nasional di panggung global, yaitu Indonesia menjadi pusat Ekonomi Syariah Dunia”