by

Refleksi Pembelajaran Jarak Jauh Dan Konsekuensi Logisnya

REFLEKSI PEMBELAJARAN JARAK JAUH DAN KONSEKUENSI LOGISNYA

REFLEKSI PEMBELAJARAN JARAK JAUH DAN KONSEKUENSI LOGISNYA
Oleh: Mugni Muhit
(Dosen STAI Al-Ma’arif Ciamis)

Pembelajaran Jarak Jauh, Banyak orang yang menganggap bahwa pendidikan itu sederhana, simple, mudah dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja, terlebih di era masa kini. Anggapan tersebut mungkin ada benarnya, jika tujuan pendidikannya hanya sekedar menyampaikan ilmu (transfer of knowledge). Proses ini sangat mudah dan tidak membutuhkan mediasi yang detail.

Pendidikan memang sebuah proses transfer of knowledge guru kepada anak didik, baik secara formal maupun non formal, bahkan di sengaja ataupun tidak disengaja. seringkali yang tidak disengaja dan tak terjadwal, lalu seorang guru atau pendidik melakukan aktivitas harian, ia akan diikuti oleh anak didik atau siapa saja yang melihat dan suka dengan itu. Hal ini termasuk pendidikan yang tidak disengaja. Fenomena ini justru terkadang lebih membekas dan diteladani. Sementara yang di sengaja dan direncakan, malah pesan edukasinya tidak terpenetrasi dengan baik kepada anak didik.

Ilustrasi tersebut di atas, menunjukan bahwa hasil akhir pendidikan sangat ditentukan oleh kondisi hati dan pikiran anak didik sebagai objek pendidikan dan pembelajaran. Guru sebagai subjek mesti memahami terlebih dahulu situasi dan kondisi anak didik, termasuk lungkungan sekitar, suasana lingkungan (mileu) pun mesti diperhatikan dan menjadi salah satu pertimbangan manakala akan memulai mendidik dan mengajar. Pola ini penting, agar apa yang direncakan guru secara simultan dan konsisten dapat tercapai, yakni tujuan pendidikan itu sendiri yaitu membimbing anak didik menjadi dewasa, beraklak, cerdas dan terampil serta memiliki jiwa kemandirian yang di kawal iman dan taqwa.

Bahwa guru wajib memperhatikan lingkungan, atinya guru harus tau diri, tau situasi dan tau kondisi. Karena itu, memahami situasi menjadi sangat urgen agar materi dapat dengan mudah dicerna. Adaptasi dengan keadaan zaman, dan pleksibilitas metodologi dalam mendidik dan mengajar adalah niscaya. Wabah corona atau covid-19 akhir-akhir ini sangat mempengaruhi cara kerja guru. Ia mampu menggeser kerja guru di kelas. Untuk itulah guru mesti cedik, piawai mengahadapi situasi covid-19 ini. Perlu juga ketangkasan menggunakan digital dalam pembelajaran jarak jauh, sebab proses pendidikan dan pembelajaran tidak boleh berhenti sampai kapan pun. Kemahiran dan melek teknologi guru manjadi skill dasar di saat wabah seperti sekarang ini.

Konsekuensi logis ini perlu disikapi oleh semua orang dewasa, terutama yang berprofesi sebagai pendidik atau guru. Guru harus menyiapkan rencana pembelajaran yang bersahabat dengan perkembangan zaman, dan covid-19. Setidaknya ada beberap asumsi terkait refleksi pembelajaran jarak jauh dewasa ini sebagai konsekuensi logis dari kapasistas dan subjektivitas guru yang tetap harus mengajar dan mendidik murid.

Pertama, intelektualitas. Sosok guru yang berkelayakan ditentukan oleh kemampuan dan daya intelektualitasnya. Guru yang pintar dan cerdas sangat memungkinkan untuk melakukan kinerja transfer of knowledge dengan baik dan benar. Ilmu yang berikan akan benar-benar diterima oleh akal sehat manakala disampaikan oleh akal waras juga. Cara berpikir, logika dan rasionalisasi guru saat menyampaikan ilmunya, merupakan kunci dan tanda kapasitas dasar pertama seorang guru. Guru bernutu tentu saja untuk melahirkan murid yang bermutu di sekolah yang bermutu juga. Mutu ini akan tercapai sesuai visi dan misi lembaga dan guru, ketika implementasinya berbanding lurus dengan intelektualitas.

Kedua, profesionalitas. Guru adalah profesi yang sangat baik dan mulia. Para Nabi, sahabat, orang-orang soleh dan sukses, semua berprofesi sebagai pendidik atau guru. Tidak terkecuali Nabi Muahammad Saw, Beliau adalah soko guru ideal bagi kita sebagai umat muslim. Guru yang profesional adalah guru yang fokus, disiplin, bertanggungjawab, dan istiqomah dalam mendidik dan mengajar anak didiknya.

Ketiga, kepribadian. Sejatinya seorang guru memiliki pribadi yang terpuji, mulia, dan luhur. Keluhuran budi pekeri guru yang direfleksikan dalam kegiatan pembelajaran dan pendidikan, merupakan penciri guru yang baik dan profesional. Seringkali kita melihat guru yang kepribadiannya tak sesuai dengan julukannya. Kepribadian pendidik benar-benar akan diikuti dan menjadi cermin berjalan untuk anak didiknya bahkan lingkungan sekitarnya.

Keempat, sosial. Sikap yang proaktif dan peka terhadap situasi lingkungan dan masyarakat sekitar sangat perlu dilakukan guru. Sebab ia bergerak dan berjuang mendidik anak didiknya tidaklah sendirian, melainkan didampingi dan dibantu oleh masyarakat. Baik secara langsung maupun tidak langsung, secara pribadi guru itu sendiri ataupun kelembagaan. Dengan demikian, kompetensi sosial adalah kemampuan guru berinteraksi, bersosialiasi, dan membangun relasi dalam kerangka edukasi. Proses edukasi yang juga sangat ditentukan oleh sejauhmana sekolah dan guru berkolaborasi dengan warga sosial kemasyarakatan.

Kelima, spiritual. Kompetensi selanjutnya yang mesti dimiliki guru adalah kesalihan vertikal. Bagaimana ia menjalin harmoni yang baik dengan teman sejawat, dengan murid dan semua komponen pendidikan lainnya. Ketaatan guru dalam beribadah dan menjaga semangat spiritualnya akan mendorong energi positif yang baik, bagi tumbuh kembangnya akan didik.

Keenam, manajerial. Kemampuan guru yang tidak kalah pentingnya lagi yaitu kemampuan manajerial. Bagaimana mungkin seorang guru tidak mampu memanage kapasistas dan perannya sebagai teacher dan educater. Ia begitu diandalkan dalam kepiawaiannya mengendalikan murid secara pribadi, kelas, antar murid di sekitar sekolah. Termasuk menciptakan tata kelola yang menunjang proses transformasi.

Ketujuh, paedagogi. Kompotensi guru yang terakhir adalah kafasitas paedagogis. Paedagogi yaitu keluasan ilmu pengetahuan dan kecakapannya dalam meterjemahkan pesan ilmu ke segala arah dan ranah. Dengan kemampuan ini, guru harus dapat menyampaikan pesan materi pelajaran secara intrinsik dan ekstrinsik. Sehingga dengan kemampuan tersebut anak didik akan makin merasa mudah dalam belajar, cepat paham, nyaman dan enjoy dalam menerima pelajaran.

Paling tidak dapat dikemukakan beberapa konsekuensi logis dari pembelajaran jarak jauh, antara lain:

  1. Digital literacy, melindungi diri dari gagap teknologi
  2. Digital civility, saling melindungi dan mencerahkan dalam menguasai industri digital
  3. Information literacy, melindungi konten digital yg dimiliki, sehingga contennya menyelamatkan semua segmentasi.

Saat ini dan ke depan akan terjadi pergeseran metodologi pembelajaran. Model pembelajaran yang tanpa tatap muka antara guru dan anak didik. Tetapi meski demikian keduanya dapat berinteraksi edukasi dengan menggunakan alat modern, seperti internet. Pemebelajaran semacam inilah yang kemudian disebut pebalajaran jarak jauh (pjj).

Terlebih di masa pandemik virus covid-19 yang masih belum menunjukan berakhir, maka guru, dan para tenaga didik lainnya mesti cerdik melakukan penyesuaian. Pembelajaran jarak jauh secara online menjadi alternatif model pembelajaran yang cukup efektif dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Maka, efektifitas pembelajaran dalam jejaring (daring), harus juga didukung oleh media, alat, sarana dan prasarana digital serta data yang berkapasitas memadai. Barangkali inilah problema yang muncul bagi pendidikan berbasis online. Terutama institusi pendidikan yang berdomisili di daerah dengan ketahanan finacialnya belum establish.

Akan tetapi meskipun kondisi sulit dan berat, pembelajaran harus tetap berjalan. Maka peran guru di sini, di era kontemporer ini, sangat strategis dan sentralistik. Ia harus bersikap transformatif dan bersifat mobile vertikal, mampu melakukan adaptasi dan inovasi kreatif pembelajaran online walaupun dengan mediasi yang belum maksimal.

Kategori Terkait