by

Kolaborasi Dakwah dan Kolaborasi Politik

Kolaborasi Dakwah dan Kolaborasi Politik.

Demokrasi itu bicara soal representasi, sedangkan dakwah bicara soal halal haram, haq dan batil.

Bicara demokrasi adalah soal perwakilan, anda boleh bicara banyak kalau wakil anda banyak. Begitu sebaliknya.

Sedangkan dakwah itu soal soal nilai agama dan sistem Tuhan, sedangkan demokrasi adalah sistem manusia, konsensus manusia.

Memaksakan semua logika dakwah ke demokrasi itu keliru, memaksakan logika demokrasi ke dakwah semua juga salah.

Sehebat apapun idealisme anda, tapi kalau tanpa perwakilan kursi yang cukup maka anda gak akan bisa merubah keadaan.

Kursi dulu baru idealisme, kursi dulu baru berkah belakangan. Berkah itu bahasa abstrak gak bisa dipahaami secara konkrit dalam kamus demokrasi.

Kalau anda punya idealisme, maka raih kursi dulu sebanyak banyaknya baru kemudian kita bicara berkah dalam tetakelola kekuasaan.

Kalah asal berkah itu logika campur aduk antara pemahaman demokrasi yang keliru dengan pemahaman dakwah yang kaku. Pemahaman begini wajib ditolak.

Berkah itu abstrak, bagaimana yang disebut dengan kekuasaan berkah? Abstrak dan tidak jelas. Apalagi tanpa kursi yang cukup, apa yang mau di berkah kan?

Pemahaman yang salah dalam demokrasi biasa di dengungkan kalangan agamis yang gak paham demokrasi. Akhirnya jadi campur aduk dan membingungkan follower.

Demokrasi menuntut power, sedangkan dakwah menuntut ikhlas, itu sama sekali beda bagai langit dan bumi.

Demokrasi bicara tatakelola negara dalam skala negara dan landskap elektoral. Sedangkan dakwah bicara perbaikan individu menuju perbaikan kolektif diluar logika elektoral. Ini suka dibalik balik.

Kolaborasi dalam politik itu sisfatnya teknis bukan prinsip. Karena politik itu bagaimana mengemas banyak kemasan dan kepentingan menuju kebaikan rakyat banyak.

Bekerjasama dalam politik itu sifatnya juga teknis jadi sifatnya sangat dinamis bisa dengan siapa aja. Yang jadi prinsip itu soal platform partai yang semua partai tentu punya platform yang berbeda.

Melihat lawan politik seperti melihat lawan dalam agama adalah kesalahan fatal. Musuh dalam agama soal kebatilan dan kemungkaran, sedangkan musuh dalam politik itu hanya rivalitas teknis eletoran keterwakilan.

Melihat PDIP dan penguasa kayak melihat zionis yahudi itu kesalahan fatal dan kebodohan. PDIP atau partai apa saja itu hanya sebatas rival politik. Bukan musuh agama.

Soal perbedaan kebijakan dengan sesama rival politik itu adalah sunnatullah, PR nya hanya bagaimana partai anda berkuasa kalau anda merasa kebijakan anda lebih baik daripada rival. Agar kebijakan anda bisa diterapkan di dalam sistem negara dan bukan kebijakan partai rival yang menang. Hanya sebatas itu.

Kolaborasi dalam politik itu mindsetnya beda dengan kerjasama dalam dakwah islam, Itu gak nyambung sama sekali kecuali tetap dipaksakan agar politik identitas terus tumbuh subur di negeri ini.

Karena soal kolaborasi dalam politik itu adalah soal soal teknis, maka sudah seharusnya kita berkolaborasi dengan semua pihak dan semua partai di negara ini, termasuk dengan partai kristen atau partai liberal dst dst untuk menuju ke satu tujuan bernegara dan berdemokrasi.

Move on lah dari dikotomi negara dan agama, move on lah dari jebakan nasionalis dan agamis, move on lah dari mengarang cerita indah israiliyyat dalam demokrasi.

Jebakan agamis dan nasionalis hanya akan menguntungkan para pemodal pemilu dan merugikan umat islam yang mayoritas di negara ini.

Jebakan ini akan membuat kalangan islam semakin terpojok ke sudut yang paling gelap karena faktanya setiap pemilu suara gabungan semua partai islam gak lebih dari 30%.

Berhentilah ceramah campur aduk antara agama dan negara, dan ceramah ceramah campur aduk antara logika demokrasi dengan logika dakwah. Karena hanya akan melahirkan generasi heroik tapi bodoh.

Mengubah mindset itu adalah PR paling besar kita, ibarat sebuah mobil, mindset itu soal dapur pacu, fitur fitur, dan besaran CC mobil. Kalau CC nya kecil dan teknologi jadul terus dipertahankan. Sampai kapanpun kita gak akan sampai ke tujuan berkuasa.

Tengku Zulkifli Usman.

Gelorakan Semangat Indonesia.!

Kategori Terkait