by

Membangkitkan Semangat Literasi Melalui Kegiatan Kemahasiswaan

Membangkitkan Semangat Literasi Melalui Kegiatan Kemahasiswaan

Membangkitkan Semangat Literasi Melalui Kegiatan Kemahasiswaan
Oleh: Sakinah Fithriyah
Pengelola Perpustakaan STAI Al-Ma’arif Ciamis

LITERASI, Mengembalikan lagi masyarakat untuk mau duduk tenang membaca buku bukanlah perkara mudah di era serba-teknologi seperti saat ini. Bersabar mendaki kata demi kata dalam setiap lembaran untuk dapat menikmati buku bacaan jika diibaratkan mungkin seperti memperkenalkan kembali nikmatnya air putih. Rasa tawarnya justru adalah kenikmatan yang paling dicari saat kita dalam kehausan.

Begitu juga buku-buku yang kenikmatannya baru bisa dicapai ketika mampu menghadapi kebosanan terhadap teks. Bagi sebagian besar masyarakat kita, buku-buku nampak membosankan dibanding hiburan-hiburan lain yang mudah diakses secara instan di zaman serba canggih ini .

Aneka hiburan berupa televisi, gim, video, dimensi 3 (3D), dimensi 4 (4D), dan dimensi-dimensi maya (medsos) yang jauh lebih cepat memberikan kesan tentu saja lebih menggiurkan dan menarik minat dari pada membaca teks yang terdiri dari kata-kata yang bahkan tidak memiliki warna. Persaingan provider yang semakin sengit menghasilkan nilai jual yang kian murah untuk bisa mengakses internet selama berjam-jam hingga tak berbatas waktu. Namun apakah semua hiburan itu benar-benar kita peroleh dengan murah dan bahkan gratis?

Jawabannya tidak. Mungkin nilai materil yang kita keluarkan nampak murah, tetapi sebenarnya kita membelinya dengan nilai imateril yang teramat mahal. Waktu, kreatifitas, kedisiplinan, dan imajinasi ialah diantara yang terkorbankan jika kita memilih hiburan-hiburan ‘murahan’. Hasilnya adalah karakter yang semakin tidak kreatif, mudah jenuh, tidak disiplin (terhadap waktu) dan memiliki tingkat imajinasi yang rendah. Sebab telah kita tukar semua itu dengan wifi gratis untuk menghabiskan waktu jam demi jam.

Menonton hiburan ‘receh’ dengan membayar kuota senilai Rp 5.000 menjadi semacam harga yang pantas untuk menghabiskan waktu selama berjam-jam di depan layar. Alangkah ruginya.

Jika para cendikiawan di masa lalu dapat menghasilkan puluhan ribu lembar kitab di usia tidak lebih dari 50 tahun (jika di rata-rata maka setiap harinya mereka menulis sebanyak 100 halaman), apa yang dapat dihasilkan generasi sekarang dengan menghabiskan waktunya berselancar keliling dunia melalui sekotak layar selama berjam-jam? Tidak heran jika teknologi justru semakin menjadi ancaman di tengah gairah membaca buku generasi kita yang semakin rendah. Inilah barangkali alasan mengapa buku-buku adalah media yang tetap relevan untuk meningkatkan intelektualitas dan kapasitas seseorang secara signifikan dan berjangka panjang untuk terhasilnya SDM yang unggul saat ini dan mungkin juga seterusnya di masa mendatang.

Merenungi kembali keadaan literasi di Indonesia membuat kita juga kembali menyadari bahwa rendahnya indeks literasi merupakan perkara yang serius karena memiliki dampak yang serius pula .

Oleh karenanya program-program yang mengarah pada peningkatan indeks literasi di Indonesia tidak boleh bosan direncanakan, dijalankan dan dievaluasi secara terus menerus.

Semestinya gerakan ini menjadi aksi bersama dalam tingkat dan kapasitas masing-masing, sebab permasalahan-permasalahan yang dihasilkan mengancam generasi sejak usia dini di berbagai daerah dan bahkan lingkungan terkecil. Peran-peran strategis perlu muncul dari para pustakawan, yang dengan nyata menyadari krisis saat ini, melalui trobosan-trobosan kreatif yang muncul dari mata kegelisahan mereka.

Mahasiswa sebagai pendidik masyarakat

Sudah mafhum adanya bahwa mahasiswa ialah status pelajar tertinggi yang sedikit banyak menuntun para pemuda bergumul dengan dunia intelektualisme, itu sebabnya buku-buku bukanlah benda asing bagi mereka, bahkan seharusnya mereka lah yang mengerti betul peran dan urgensinya. Mahasiswa seharusnya menjadi kalangan pertama yang melihat lebih dulu akar permasalahan dari segala gejala-gejala yang timbul di tubuh masyarakat.

Mata mereka adalah mata ilmu yang mewakili kejelian dan ketajaman sehingga menembus apa yang tidak dilihat mata masyarakat awam di permukaan, mereka lah yang semestinya mengarahkan masyarakat untuk mengambil langkah terbaik dalam menyelesaikan permasalahan sosial mulai dari akarnya, mulai dari akalnya.

Begitu juga dalam menyelesaikan masalah literasi. Bayangkan bila mahasiswa di Indonesia yang berjumlah 7,5 juta diamanahi tugas dalam rangka meningkatkan indeks literasi, tidakkah sebenarnya ini tugas yang sesuai untuk mereka? sebab persoalan mengenai buku dan minat baca adalah persoalan intelektual dan sosial sekaligus, persoalan yang memang digeluti habis dunia ke-mahasiswa-an, dimana fisik dan semangat mereka tengah segar-segarnya.

Bentuknya bisa aneka rupa, kembali kepada kreativitas masing-masing perguran tinggi atau program studi untuk mengatur strategi yang targetnya adalah meningkatnya semangat literasi dan ghirah membaca masyarakat. Tugas ini sebenarnya juga seperti gayung bersambut untuk para dosen yang dituntut untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Bukankah ini akan menjadi misi bersama yang punya dampak amat signifikan?

Sebagai contoh, kegiatan keliterasian bisa dijadikan sebagai program wajib-rutin tahunan ketika perguran tinggi menjalani masa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Di sini misalnya, baik mahasiswa, dosen, aparatur pemerintah dan masyarakat desa tempat dimana KKN itu dilaksanakan dituntut untuk bersinergi demi terwujudnya semangat literasi di kampung atau desa tersebut. Bayangkan kembali jika setiap desa di Indonesia setidaknya pernah dijadikan tempat KKN Mahasiswa.

Berapa desa yang akan bangkit atau dipaksa bangkit untuk menyemarakkan kegiatan litetasi? Meski ini kerja besar, namun apabila hal demikian dapat diatur dalam regulasi yang mengikat tentu saja akan menjadi gerakan yang sangat efektif, efisien dan tentunya meringankan kerja pemerintah dalam meningkatkan indeks literasi di Indonesia.

Mahasiswa ialah diantara kalangan yang paling pantas mengemban misi literasi ini. Sebab pada jiwa mereka pula pendidikan memiliki dampak yang sangat signifikan. Budaya membaca sebagai cikal bakal budaya literasi tentu tidak bisa dibangun bermodalkan semangat yang tersalurkan melalui satu event atau aksi tunggal semata, pembangunan sebuah budaya tidak bisa diwujudkan tanpa keuletan, keistiqomahan, akses, dan lingkungan yang kondusif.

Di sinilah tuntutan ditujukan diantarnya kepada mahasiswa untuk turun ke jalan di samping aksi-aksi lainnya yang membutuhkan jiwa kritis dan api semangat mereka. Membentuk masyarakat yang gemar membaca dibutuhkan kerja intelektual dan sosial sekaligus, itulah sebabnya tempat ini cocok diisi oleh para mahasiswa sebagai perlambangan kalangan yang melek pendidikan dan melek keadaan masyarakatnya sekaligus.

Oleh karena mahasiswa adalah tumpuan yang diharapkan untuk dapat berperan dalam meningkatkan indeks literasi di negara kita, maka budaya literasi itu harus juga tumbuh lebih dulu dalam tubuh mahasiswa. Kalau perlu, dalam mata kuliah wajib mahasiswa dimasukkan juga mata kuliah mengenai keliterasian mengingat tantangan yang dihadapi mahasiswa semakin berat.

Para pustakawan juga musti meningkatkan perannya dengan mengadakan kegiatan berkesinambungan contohnya bisa seperti kuliah semi formal yang fungsinya untuk memantau peningkatan kemampuan/kecakapan literasi siswa/mahasiswa. Jadi selain sebagai pelayan administratif, dan konsultan, para pustakawan juga dianjurkan untuk dibekali ilmu pendidikan agar dapat turut serta mendidik para pemustakanya.

Selain dorongan internal melalui kebijakan kurikulum, dorongan eksternal seperti gerakan-gerakan mahasiswa harus kembali bernafaskan ilmu dan dekat dengan buku-buku. Kalau perlu disemarakkan kembali program-program yang berkaitan dengan buku. Bukan hanya bedah buku atau seminar, tetapi langkah-langkah yang sifatnya berkesinambungan dan rutin, seperti; mendaras buku, membaca dan berdiskusi bersama, dan kegiatan lainnya.

Kegiatan yang sifatnya kontinyu akan melatih mahasiswa disiplin dan bersabar terhadap proses, berbeda dengan kegiatan bedah buku atau seminar yang menyuguhkan hasil secara langsung melalui poin-poin yang sudah diproses terlebih dahulu oleh narasumber, para pendengar hanya tinggal mendengarkan dan merespon hasil yang telah matang tersebut.

Sejarah membuktikan, meski bergelar mahasiswa, tidak berarti level membaca mereka telah meningkat dari level sekolah dasar. Kenyataan inilah yang melatar belakangi kehadiran buku How to Read A Book , salah satu buku best seller internasional karangan dua orang profesor asal Amerika, Mortimer J. Adler dan Charles Van Doren yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia.

Dalam pengantarnya, Adler menjelaskan bahwa buku tersebut hadir untuk menjawab kekhawatirannya terhadap mayoritas para pelajar sekolah tinggi yang level membacanya tidak meningkat dari sekolah dasar. Ia menulis: “Para pendidik mengakui bahwa mengajari para remaja untuk membaca telah menjadi masalah pendidikan yang sangat besar” .

Dalam buku inilah Adler dan Van Doren menyampaikan bahwa untuk membaca dan memahami sebuah buku diperlukan skill atau keterampilan yang memiliki level-level tertentu menyesuaikan jenis buku yang dihadapi. Secara singkat,

level-level membaca tersebut dibagi menjadi empat arus utama yaitu: Membaca dasar (Level 1), membaca inspeksional (level 2), membaca analitis (level 3), membaca sintopikal atau membaca komparatif (level 4). Mengetahui adanya level-level dalam meningkatkan keterampilan membaca buku, yang selanjutnya dijelaskan dengan begitu kompleks dan detil dalam buku tersebut, membuat kita semakin dapat mengidentifikasi penyebab rendahnya indeks literasi di negara kita. Diantaranya ialah karena kita tidak memahami bagaimana memperlakukan jenis-jenis buku berbeda sesuai tingkat level membaca kita.

Akibatnya sulit bagi masyarakat kita untuk dapat memahami alih-alih menikmati aktivitas membaca buku.
Fuad Hasan mengatakan bahwa upaya untuk meningkatkan ‘minat baca’ masyarakat harus berpijak dari adanya ‘kemampuan membaca’. Kemampuan atau kecakapan membaca (proficiency) merupakan syarat awal untuk mengakses bacaan.

Setelah memiliki kecakapan membaca, maka langkah selanjutnya ialah membina ‘kebiasaan membaca’ . Survei-survei yang telah dilakukan menunjukkan bahwa umumnya masyarakat Indonesia baru mencapai melek aksara, sehingga masih diperlukan langkah yang cukup panjang untuk sampai kepada kebiasaan atau tradisi membaca.

Oleh sebab itu, menggiatkan semangat literasi harus dibarengi dengan memahami ilmunya agar langkah yang ditempuh lebih efektif dan sinergis.

Mahasiswa sebagai agen intelektual tidak hanya dituntut untuk mengenalkan pentingnya membaca, tetapi juga mengajarkan kepada masyarakat umum maupun para pegiat literasi, bagaimana cara membaca yang benar agar level pemikiran mereka terus meningkat.

Kenikmatan membaca buku hanya bisa dicapai melalui pendakian kata demi kata, kesabaran inilah yang harus dilatih kepada masyarakat hari ini yang membiasakan diri terpapar dengan segala-sesuatu-yang-serba-instan sehingga kurang bersemangat (baca: tidak bersabar) terhadap proses.

Mahasiswa sebagai masyarakat terdidik harus kembali mengenalkan masyarakat pada kenikmatan membaca buku melalui program-program kreatif yang berkesinambungan, dengan demikian akan terhasil gerakan-gerakan literasi yang lebih mengakar, terarah dan berterusan sehingga dengannya masyarakat mendapat hiburan yang lebih berkelas, karena bersamaan dengan mengecap manisnya ilmu, cakrawala pemikiran dan imajinasi masyarakat pun bertambah luas melalui buku-buku yang dibacanya. Insya Allah.

  1. Lihat Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca), Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2019, hlm. 15
  2. Survei Progamme for International Student Assessment (PISA) pada 2015 misalnya, memosisikan Indonesia berada di urutan ke-64 dari 72 negara. Sementara survei Central Connecticut State University memosisikan Indonesia di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei, hanya setingkat di atas Botswana. Sedangkan menurut Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) hasil survey yang dilakukan Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Kemendikbud di 34 Provinsi menunjukkan angka 37,32% yang tergolong rendah. (Lihat Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca), Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2019).
  3. https://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/11/12/pi2o7r366-jumlah-mahasiswa-indonesia-masih-sedikit
  4. Lihat Adler, Mortimer J., Charles Van Doresn, How to Read A Book: Mencapai Pundak Tujuan Membaca, TT: iPublishing, 2015.
  5. Ibid., hlm. xix
  6. Indeks Aktivitas Literasi Membaca,…… hlm. 20
  7. Lihat catatan kaki no. 2

Kategori Terkait