by

Kurikulum Darurat Antara Wacana dan Urgensi

Kurikulum Darurat Antara Wacana dan Urgensi

KURIKULUM DARURAT ANTARA WACANA DAN URGENSI
Nana Suryana
Dosen IAI Latifah Mubarokiyah Suryalaya Tasikmalaya

Kurikulum Darurat, Faktanya virus corona atau covid-19 telah banyak merusak tatanan kehidupan manusia. Satu diantaranya dunia pendidikan. Lebih dari tiga bulan proses pendidikan di negeri ini telah banyak mengalami penyesuaian terutama pada aspek proses belajar mengajar. Guru dan siswa, dosen dan mahasiswa dipaksa harus melaksanakan pembelajaran tidak lagi tatap muka di dalam kelas melainkan melalui proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) sistem online (daring), tentu dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang dihadapi.

Mencermati dan mengamati informasi dari pemerintah melalui juru bicara penanggulangan covid-19 masa pademi virus corona ini diprediksi akan berlangsung lama karena belum vaksin definitif dengan standar internasional untuk pengobatan virus corona. Oleh karena itu semua kehidupan harus segera melakukan adaptasi dengan kenormalan baru (new normal).

Dunia pendidikan misalnya tengah merancang kegiatan adaptasi baru (new normal) melalui “rancangan” kurikulum darurat. Mengutip pernyataan Plt Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (Hamid Muhammad), “Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mempertimbangkan membentuk kurikulum khusus masa pandemi virus corona (covid-19)”. Dalam prakteknya menurut Hamid, kurikulum akan disederhanakan. Penyerderahaan dilakukan pada aspek kompetensi dasar yang selama ini cukup banyak dan berat. Oleh karenanya akan berdampak pada jam belajar mengajar yang dilakukan 2-3 jam.

Pemikiran penerapan kurikulum darurat ini patut diapresiasi dan kaji secara sekasama. Apakah sangat penerapannya sangat urgen dilakukan? Bagaimana dampak penerapan kurikulum tersebut terhadap kualitas pendidikan?, dan lain sebagainya.

Mengapa? Karena kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum tidak hanya berbicara mengenai sekumpulan dari mata pelajaran saja, akan tetapi dalam ruang lingkup yang luas kurikulum menjelaskan mengenai aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik dan guru baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Dalam proses penerapan sebuah kurikulum secara teori harus mempertimbangkan beberapa hal yaitu aspek filosofis, psikologis, sosial-budaya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari sekian pertimbangan rencana penerapan kurikulum darurat yang harus menjadi perhatian serius adalah faktor psikologis peserta didik.

Pertimbangan terhadap perkembangan peserta didik menjadi sangat penting dalam penerapan kurikulum darurat. Penerapan kurikulum darurat harus sesuai karakter peserta didik, baik dalam penyesuaian penetapan tujuan, materi dan bahan yang harus disampaikan, penggunaan model atau media pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran, serta evaluasi apa yang harus digunakan.

Pertimbangan psikologis dapat berimplikasi diantaranya, a) setiap peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhanya, b) program inti yaitu program pembelajaran yang bersifat umum yang wajib dipelajari oleh seluruh peserta didik, perlu juga disediakan pelajaran pilihan atau tambahan sesuai dengan minat anak, c) lembaga pendidikan hendaknya memberi bahan ajar yang baik kepada peserta didik yang bersifat kejuruan maupun akademik.

Bagi peserta didik yang memiliki bakat di bidang akademik diberi kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya, dan d) durikulum memuat tujuan-tujuan yang mengandung aspek pengetahuan, nilai/sikap, dan keterampilan yang menggambarkan pribadi yang utuh lahir dan batin. (Sukirman & Asra, 2017). Menelaah beberapa pertimbangan di atas, pertanyaan kemudian akankah kurikulum darurat ini mampu menjawab implikasi-implikasi tersebut. Wallahu alam. Semoga dam kita tunggu saja.

Kategori Terkait