by

Cerdaskan Jiwa Raga dengan Iman dan Taqwa yang Ilmiyah dan Amaliyah Setahap demi Setahap

Cerdaskan Jiwa Raga dengan Iman dan Taqwa yang Ilmiyah dan Amaliyah Setahap demi Setahap

Oleh: Mugni Muhit
(Dosen STAI Al-Ma’arif Ciamis)

Cerdaskan Jiwa Raga – Para ahli teoretisi dan praktisi senantiasa menjaga kehormatan dan jati diri keilmuannya hingga mereka sukses dan terhormat di semua panggung kehidupan. Ketercapaian yang demikian gemilang itu, semata bukan tanpa perjuangan, pergerakan, dan langkah nyata, tetapi justru seluruhnya mesti dicapai dengan spirit juang yang berkesadaran, berkesinambungan dan tanpa syarat, kecuali semata ridla Ilahiyah.

Untuk insert ke dunia juang yang sesungguhnya itu tentu saja perlu kunci fleksi dan adaptable. Dan kuncinya ternyata adalah bergerak melangkah tahap demi tahap penuh optimis dan keyakinan yang tembus tanpa batas.

Allah Azza wajalla menegaskan dalam Al-Qur’an sebuah isyarat suci tentang pencapaian beradasakan anak tangga ini:
لتركبن طبقا عن طبق
“Capailah semua kebaikan, kehormatan, dan derajat tertinggi setahap demi setahap”

Untuk mencapai tahapan itu tentu saja perlu satu Paradigma atau model konsep yang mutakhir. Model konsep ini sejatinya dimulai dari kontruksi tarbiyah yang konstruktif dan kongruen. Pendidkan, pembelajaran, dan pengajaran menjadi strategi yang selalu mutakhir abadi untuk proses memanusiakan manusia (khaira ummah).

Oleh sebab itu semua jenjang lembaga pendidikan mesti memiliki konstruksi paradigma yang konkrit dan transformatif. Konkrit mengandung arti berdaulat dalam langkah nyata, faktual, dan aktual. Eksistensinya aksesable dan transformatif serta berdaya manfaat ke bumi dan ke langit. Langkah inilah yang akan mengawal pembaharuan dan daya yang hebat bagi jati diri dan kehormatan badan lembaga pendidikan. Berikut langkah-langkah aksi sinergi yang mungkin dapat diafirmasikan:

  1. School reform
    Pertama, pembaharuan sistem sekolah atau lembaga tarbiyyah secara menyeluruh dan radikal (mendasar)
  2. School paradigma
    Kedua, bangun mindset, heartset, dan soulset yang terintegrasi dengan visi kelembagaan, sebagai rekayasa logis empiris kejayaan masa depan
  3. Program
    Ketiga, Rawat siklus program strategis dengan cara dan metode yang efektif dan efisien
  4. Rencan Kerja
    Keempat, planning yang rasional, mutakhir, serta memperhatikan parameter yang jelas dan terukur, link and mach dengan kebutuhan dan keinginan user dan publik.
  5. Struktur
    kelima, kerangka organisasional yang kokoh, solid, loyality, dan dedikasi dalam koridor kemaslahatan bersama mesti dihadirkan dan ditunjukan dalam konsep struktur yang tegas dan lugas. Cara kerja, hirarki dan job deskription ditunaikan secara objektif atas dasar profesional dan proporsional.

Langkah optimis tersebut, diharapkan dapat mengawal keberhasilan dan kesuksesan bersama. Sehingga tidak boleh terjadi sebuah lembaga pendidikan Iqdam wal ijlam, cenderung statis, maju satu langkah dan mundur satu langkah. Hal ini tentu bukan sesuatu yang mudah, tetapi bukan pula sesuatu yang rumit, manakala dihadapi bersama. Kekeluargaan, loyalitas, dan saling amanah satu sama lain dalam send of be longing dan send of responsibility di koridor masing-masing, niscaya dijaga.

Namun demikian, dalam realitas sistem hidup termasuk dalam kerja tarbawi di lembaga pendidikan, akan ditemukan fenomena “akas” dan “tanaqud”. Akas yaitu kebalikan dari realitas itu sendiri, sedangkan tanaqud adalah perbedaan sudut pandang dan asumsi, termasuk adanya gesekan dan benturan. Keduanya lumrah dan biasa serta pasti terjadi. Kesadaran akan hal tersebut sebagai insan bijak dan terhormat adalah niscaya, agar selalu mampu nyaman dan bersahabat dengan apa dan siapapun.

Sayyid qutub, dalam maqalah fenomenalnya mengingatkan:

  1. La hayata illa biljamaah.
    Tidak ada kehidupan yang harmoni kecuali dengan kebersamaan. Kepekaan sosial dan soludaritas yang tinggi menjadi penciri watak dan karakter terbaiknya.
  2. La jamaata illa bilquwwah
    Tidak ada kebersamaan yang kokoh, kecuali dengan adanya kekuatan. Kekuatan yang ditunjukan dalam ketegasan mengambil keputusan terbaik di antara yang terbaik. Seseorang yang kuat akal dan hatinya, keduanya sinergi dengan baik, ia lebih memungkinkan untuk diikuti dan diteladani.
  3. La quwwata illa bi tarbiyyah.
    Tidak ada kekuatan yang sejati, kecuali dengan siraman pendidikan rohani dan jasmani secara seimbang (balance). Keseimbangan nutrisitas dua potensi manusia ini amat penting dalam proses pendidikan yang kuat dan hebat.
  4. La tarbiyyata illa bil hakikah
    Tidak ada pendidikan yang luar biasa, kecuali pendidikan yang melibatkan hakikat, yakni menghadirkan Allah Sang pencipta yang Maha Besar dan Tinggi.
  5. La hakikata illa bil aqidah
    Tidak ada hakikat, kecuali dengan akidah yang terpatri kuat dalam sucinya jiwa.
  6. La aqidata illa aqidah islamiyah
    Tidak ada akidah yang mendamaikan dan membanggakan, kecuali akidah Islam.

Cerdaskan jiwa raga, Pendidikan Islam adalah cara terbaik yang mampu mencerdasakan jiwa dan raga dengan keimanan dan ketaqwaan yang aplikatif setahao demi setahap (step by step). Semakin cerdas dalam panduan iman dan taqwa, maka semakin baik. Semakin baik, maka besar peluang mencapai al-falah (Kemenangan spiritual, intelektual, dan empatikal).

InsyaAllah.

Kategori Terkait