by

Refleksi Pemikiran Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Adaptasi Kenormalan Baru

Refleksi Pemikiran Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Adaptasi Kenormalan Baru
Oleh: Mugni Muhit

Pembelajaran daring pada masa pandemi covid-19 adalah sebuah alternatif adaptip, dan menjadi metode pembelajaran yang dinilai modern. Namun demikian, dalam implementasinya, tidak ada perbedaan perlakuan pada proses penjaminan mutu antara pembelajaran daring dan luring atau tatap muka. Seluruh perangkat administrasi pembelajaran, serta instrumen terkait, sepenuhnya mesti tercapai pada kedua sistem pembelajaran ini.

Ketercapaian pembelajaran daring dan luring sejatinya mengacu kepada basis mendasar sebuah perencanaan pembelajaran. Hal ini niscaya, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik dan komplementer.

A. Perencanaan Pembelajaran

Pembelajaran yang selaras dengan prinsip perencanaan pembelajaran sebaiknya dengan mempertimbangkan aspek-aspek strategis berikut:

  1. Berdasarkan pada paradigma SCL (Student Centered Learning / Pembelajaran yang terpusat pada mahasiswa)
  2. Berdasarkan pada pembelajaran tuntas
  3. Berorientasi pada kemandirian, otonomi, keaktifan, kreativitas, dan inovasi mahasiswa
  4. Proses pembelajaran sebagai interaksi antara mahasiswa dengan materi atau bahan ajar, media, waktu dan strategi pembelajaran.

Selanjutnya, ada prinsip pembelajaran konektivisme. Belajar dalam kontek konektivisme adalah belajar yang diarahkan untuk tujuan pembentukan koneksi dalam jejaring pengetahuan dengan berprinsip pada:

B. Pembelajaran Konektivisme

  1. Belajar merupakan proses untuk menghubungkan entitas
  2. Mengembangkan dan memelihara koneksi diperlukan untuk memfasilitasi keberlanjutan belajar
  3. Kemampuan utama dalam belajar adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan membuat hububungan antara beragam bidang, ide, dan konsep
  4. Kafasistas untuk belajar terus menerus merupkan keterampilan yang strategis dibandingkan pencapaian saat ini
  5. Pengambilan keputusan merupakan salah satu betuk proses belajar

C. Pembelajaran Konstruktivisme

Pembelajaran konstruktivisme merupakan proses pembelajaran konstruksi makna betdasarkan beragam interaksi individual maupun sosial, dengan mengacu pada prinsip:

  1. Materi disajikan secara interaktif
  2. Cobtoh dan latihan dituangkan secara bermakna
  3. peserta didik mengendalikan proses belajar secara mandiri
  4. Tersedianya interaksi individu dan sosial dalam proses pembelajaran

D. Pembelajaran Behaviorisme

Prinsip behaviorisme menegaskan bahwa belajar merupakan proses stimulus, respon dan umpan balik, diterapkan dengan memperahatikan:

  1. Tujuan pembelajaran perlu ditampilkan
  2. Pencapaian belajar perlu dinilai
  3. Umpan balik perlu dilakukan secara konsisten, dari dosen ke mahasiswa atau dari mahasiswa terhadap dosen, baik secara individual maupun institusional.

E. Pembelajaran Kognitivisme

  1. Belajar merupakan proses pengolahan informasi di otak mahasiswa, dengan hasil belajar yang menunjukan adanya perubahan kognitif seorang pembelajar
  2. Materi disampaikan secara bertahap agar lebih mudah dipahami
  3. Materi disajikan secara beragam dengan menggunakan berbagai media
  4. Adanya pengukuran terhadap hasil belajar untuk membuktikan terjadinya proses belajar

Kecermatan dan ketangkasan dalam mendidik, baik melalui daring maupun luring, parameternya terletak pada bagaimana pendidik mampu mensinergikan berbagai metode dan pendekatan secara integral, dengan mengutamakan dan fokus pada hadirnya perkembangan dan perubahan peserta didik.

Bahkan di era digital sekarang ini, penggunaan dan pemanfaatan teknologi sangatlah penting. Media sosial yang semakin variatif dan beragam mesti dikuasai langkah dan cara kerjanya untuk mendukung proses pembelajaran, baik pembelajaran daring maupun luring. Media sosial yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran seperti: zoom, google meet, google clasroom, email, e-learning pjj, whatsAPP group, cisco webEX meeting, talk fusion, google hangout, youtube, multimedia files, discord, kahoot, google form, jitsi dsb. Semua jenis media sosial ini dapat dijadikan sarana pembelajaran baik pembelajaran sistem online ataupun offline.

Capaian akhir pembelajaran setidaknya dapat diraih dengan racikan penetrasi perencanaan, konektivitas, konstruktivitas, behavioral, dan kognitivitas. Integrasi penggunaan sarana belajar di media sosial menjadi perekat dan menguatkan capaian tersebut.

InsyaAllah

Kategori Terkait