by

MEMPERTEGAS ARAH PENDIDIKAN MASA KINI MELALUI POTRET TARBIYAH NABAWIYAH ADALAH RUH JIHAD SANTRI

MEMPERTEGAS ARAH PENDIDIKAN MASA KINI MELALUI POTRET TARBIYAH NABAWIYAH ADALAH RUH JIHAD SANTRI

Oleh : Mugni Muhit

Sebagian orang menyikapi implementasi konsep pendidikan, direspon dengan sikap yang ringan dan biasa. Tetapi lain halnya dengan para pakar, teoretisi dan praktisi, serta pemerhati pendidikan, mereka posisikan pendidkan sebagai instrumen signifikan, sangat bermakna dan penting.

Para ahli bahasa menyoroti terminologi tarbiyyah dengan pendekatan akar lughawi kata itu sendiri. Menurutnya, tarbiyyah (pendidikan) berasal dari tiga suku kata, yaitu ربب، ربى، dan يربي yang berarti memperbaiki, melindungi, dan meluruskan. Term ربي berasal dari akar kata حلى – يحلي dan غطي – يغطي yang artinya menutupi dengan rapih. Lafadz tersebut dilahirkan dari fi’il ربى يربي تربية. Maka lafadz الرب dialamatkan kepada eksistensi Allah azza wajalla yang berarti Allah sebagai Tuhan yang senantiasa layak ditaati dan yang selalu memperbaiki setiap keadaan semesta.

Dalam tafsir Al-Baidhawi kata الرب di ayat رب العالمين yang terdapat dalam surat al-fatihah, sebagai masdar yang bermakna tarbiyah, mengandung pengertian bahwa Allah adalah Tuhan yang menyampaikan segala sesuatu hingga pada titik kesempurnaan melalui tahapan demi tahapan. Atas dasar itulah dapat kiranya diambil konklusi sementara mengenai definisi tarbiyah (pendidikan) sebagai intrumen penting dalam proses penyempurnaan dan perbaikan manusia.

Pertama, pendidikan merupakan proses menyampaikan ilmu pengetahuan untuk mencapai kesempurnaan yang dilakukan secara variatif dan berjenjang. Kedua, pendidikan adalah proses menentukan tujuan melalui persiapan sesuai dengan batas kemampuan objek pendidikan. Ketiga, pendidikan adalah aktivitas penting seorang guru yang dilakukan secara bertahap. Capaian utamanya adalah membangun mindset yang diwujudkan dalam bentuk sikap mendahulukan kepentingan umum (maslahah mursalah) daripada kepentingan pribadi, serta kemampuan mendahulukan yang paling urgen diantara urgensitas lainnya. Keempat, pendidikan sejatinya dijalankan secara berkesinambungan (sustainable). Dengan kata lain, langkah dan prosedurnya selaras dengan kepentingan hidup dan kehidupan, tanpa dibatasi ruang dan waktu semenjak buaian hingga liang lahat (من المهد الى الهد). Kelima, pendidikan merupakan tujuan (المقاصد) yang paling penting dalam kehidupan, baik secara individual maupun kolektif sosial.

Dapat dipahami dengan baik bahwa target utama pendidikan adalah kemaslahatan umat. Dan karena itulah asas hakiki pendidikan adalah mencapai ridla Allah Swt (lihat QS Ali ‘Imran: 79).

Kesuksesan proses pendidikan dapat dilihat dari hadir dan tumbuhkembangnya perilaku, dan kepribadian positif nyata seseorang. Dewasa ini dapat disaksikan secara langsung, pola pendidikan yang telah benar-benar menjauh dari hakikat pendidikan itu sendiri, yakni membantu mewujudkan potensi dan energi positif Ilahi menjadi sebuah akhlak mulia, kebajikan dan kemaslahatan lahir dan batin dunia kini dan akhirat kelak. Sementara itu di fenomena pendidikan masa kini, nyaris tidak ditemukan upaya serius pembentukan kesempurnaan akhlak dan rohani. Fakta sosial seringkali menyuguhkan anarkisme, radikalisme dan penindasan kepada sesama manusia serta degradasi moral yang luar biasa. Hidangan tak sedap ini diduga kuat sebagai akibat dari kekeliruan dalam menentukan tujuan dan target (finishing) pendidikan itu sendiri.

Berdasarkan fenomena dan fakta empiris menunjukan bahwa tujuan pendidikan masa kini adalah tercapainya target dan kemampuan material, dibalut oleh rasa cinta terhadap dunia (hubbu dunya), dengan mengesampingkan nilai dan norma agama serta tradisi positif dikehidupan sosial kemasyarakatan.

Dalam situasi seperti itulah yang terpikirkan hanyalah bagaimana memenuhi kebutuhan material agar dapat hidup mewah dan modern. Akibatnya seringkali juga hubungan kekeluargaan pun dinilai berdasarkan pertimbangan material, seakan materi menjadi penguasa atas pikiran dan kepribadiannya. Baginya orang lemah, miskin dan tak berdaya secara material, adalah kecil, sepele dan diremehkannya, dan tidak perlu diperhitungkan. Ia hanya tertarik berinteraksi dan bersinergi dengan yang dianggapnya mapan, dan memiliki aset serta kedudukan material.

Hemat penulis, produksi mindset yang keliru ini adalah hasil rekayasa John Dewey, dialah yang paling bertanggungjawab atas pengalihan peran pendidkan untuk kepentingan ekonom dan industriawan Barat. Sehingga dasar pemikirannya merupakan konsumsi industri pancaroba dengan tujuan menyiapkan sekolah modern guna membantu kepentingan badan industri serta melatih mahasiswa dan atau pelajar untuk mencintai materi melalui aktivitas pekerjaan di pabrik dan industri lainnya.

Dalam buku berjudul : At Tarbiyyah ka ‘adaat lil Isti’mari Ats Tsaqaafi, salah satu pakar pendidikan Barat menegaskan bahwa potensi modernisasi pendidikan di negara-negara berkembang, diyakini sebagai upaya untuk merubah kecenderungan modernisasi menjadi industrialisasi dan kapitalisasi. Indikator bergesernya arah pendidikan tersebut antara lain:

  1. Banyaknya pengangguran para lulusan universitas dan perguruan tinggi yang dibarengi dengan minimnya keahlian mereka dalam bekerja.
  2. Ada kecenderungan budaa yang berkiblat ke Barat. Budaya dan tradisi negara maju mengalahkan kehidupan transenden yang murni tumbuh dari norma dan kepribadian luhur.
  3. Degradsi dan dekadensi moral dan kepribadian orang-orang yang menuntut ilmu di lembaga pendidikan Eropa
  4. Ada anggapan bahwa kepribadian negara berkembang itu rendah dan membiarkannya menjadi korban proyek pembaratan. Hal ini tentu mengakibatkan menurunnya moral dan berubahnya wawasan serta way of life pendidikan.
  5. Referensi pendidkan dan pembelajaran sudah diintervensi negara-negara penjajah.

Implementasi pendidikan berbasis mindset barat yang kemudian dikemas dalam nomenklatur ‘pendidikan modern’, sasarannya adalah para tunas bangsa, para pemuda yang telah kehilangan rasa bangga dan kepercayaan kepada dirinya, meragukan potensi masyarakatnya, pikiran dan hatinya kosong, serta tidak memahami dengan baik tujuan yang harus dicapai dalam hidupnya. Akibatnya maraklah gaya hidup glamor, mercusuar, kebodohan dan kebejatan moral yang sering dilakukan oleh kaum remaja dan pemuda.

Pergeseran dan perubahan watak ke arah negatif merupakan akibat perkembangan pendidikan modern yang telah meracuni rumah kaum muslimin. Mereka terus menerus secara masive memanfaatkan kepolosan pemuda dengan mempenetrasi penciptaan idola dan bahkan teladan hidup materialnya.

Kita dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa tayangan televisi dengan aneka ragam acara disuguhkan dengan manis dan indah, hingga penikmatnya nyaris tak sadarkan diri bahwa ia telah sedang diracuni akidahnya, pola pikirnya, kecenderungannya, dan kepribadiannya. Ada banyak sosok terpuji dan didolakan dalam televisi, media sosial serta media publik lainnya. Sosok tersebut mampu menggeser pandangan hidup, kepercayaan diri dan kecintaannya terhadap tanah air. Pencitraan ini dibuktikan dengan masuk idola dan tokoh tertentu ke dalam pikurannya, dan mampu menghilangkan tradisi dan kebiasaan mulia sebelumnya. Semua berubah menjadi karakter dan watak barat yang menggandrungi dunia, harta dan material. Lebih mirisnya lagi, pemuda kita inilah yang menjadi korban skenario mereka untuk melemahkan dan menenggalamkan aspek aspek ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kemandirian, percaya diri, optimisme, dan rasa cinta terhadap tanah airnya. Misi Barat tersebut ternyata amat sangat sukses bahkan melampaui batas minimun yang mereka tetapkan sebagai capaian yang harus diperoleh.

Sebagai penggiat pendidikan dan peduli tunas bangsa, serta rasa cinta terhadap kelangsungan hidup mulia dan makmur, setidaknya ada solusi sebagai jalan keluar alternatif yang mungkin dapat dilakukan. Pertama, bangun kebersamaan dan hilangkan tradisi serta sikap individualisme dalam amal dan aktivitas individu dan sosial. Kedua, rumah keluarga muslim yang telah sedang dirancuni oleh propaganda yahudi dan nasrani yang ingin mengahncurkan, harus segera sadar dan bangkit dari kepapaan. Segeralah mengganti idola kita sendiri, anak dan keturunan serta saudara kita dengan idola yang berasal dari ajaran suci. Pastikan Muhammad Saw sebagai idola luar biasanya dalam menjalani hidup.

Ketiga, munculkan dan tanamkan dalam jiwa dan kepribadian anak, kecintaan yang besar tulus dan kokoh kepada kekasih Sang pencipta, yakni Nabi Muhammad Saw. Didiklah mereka agar senantiasa konsentrasi dalam segala aktivitas positif dengan tetap mengharap ridla Allah dan Rasul-Nya. Keempat, tanamkan dalam jiwa para pemuda sikap menolak kebatilan dan kemungkaran. Sehingg di saat dewasanya kelak, akan begitu bernilai, berguna, bermanfaat, dengan pakaian akhlak alkarimahnya yang mulia.

Dalam dunia pebdidikan, penting kiranya untuk senantiasa fokus pada penelitian yang sungguh-sungguh terhadap metodologi pendidikan yang senafas dengan al-Qur’an dan As-Sunnah. Teori-teori pendidikan dalam perspektif Islam perlu dimunculkan, dijaga dan dikembangkan dalam perencanaan dan kinerja pendidikan islam.

Pondok pesantren adalah sosok lembaga pendidikan islam tertua dan paling suksen didunia. Bahkan dapat dikatakan pendidikan dipondok pesanntren adalahan model pendidikan modern terbaik. Bagaimana tidak, pondok pesantren mampu mendidik tidak hanya kemampuan ilmu rohani yang diwujudkan dalam performa akhlak alkarimah, tetapi juga kemampuan jasmani. Olah pikir, olah raga dan olah hati benar-benar tercapai dengan baik. Santri amat sangat meyakini bahwa gurunya itu (kiyai) yang tengah mendidik dan mengasuhnya adalah tak ubahnya seperti nabi dan sahabat. Ta’dzim, hormat, cinta kasih dan sayang termanifestasikan dengan sangat baik dilembaga pendidkan pondok pesantren.

Rahasia keberhasilan pondok pesantren dalam menjalankan pendidikannya adalah adanya ruh jihad para mudarris. Uswah dan qudwan kepada cara Nabi Muhammad Saw pun senatiasa dijaga, agar manifestasi pendidikannya selaras dengan sepirit nabawi. Inilah yang dikenal dengan model pendidikan Nubuwwah. (liha QS al-ahzab : 21). Metode dan strategi Nabi dalam mendidik para sahabatnya begitu sempurna. Kesempurnaan pendidikan nabi terletak pada tujuan dan proses yang sarat dengan ta’dzim, takrim, dan tahsin. Konsep sami’na wa atha’na benar-benar mewarnai hubungan baik antara guru dan murid, keduanya saling komplementer dalam mencari ridla Allah Swt.

Kategori Terkait